Copyright © 2010-2013
Selasa, 13 Januari 2015

Mewujudkan Mimpi Tertunda


Kemarin saya berbincang-bincang dengan seorang kerabat yang sedang bingung dalam memilih jalan hidupnya. Jadi ia kini berprofesi sebagai seorang bankir, yang menurut pengakuannya profesi ini ia rintis dari ketidaksengajaan. Profesi ini ia anggap profesi sementara selagi ia terus mengejar mimpinya yang tertunda, yakni untuk menjadi seorang diplomat.

Dari kecil ia sudah melihat kiprah ayahnya sebagai diplomat yang bekerja dan berpindah-pindah negara. Dari situ teman saya ini  memiliki mimpi untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang diplomat suatu saat nanti.

Namun kenyaataan yang ada berbicara lain. Sudah tiga kali pendaftaraan Deplu, ia selalu mendapat hambatan teknis yang membuatnya gagal untuk lolos pendaftaran.

Sampai akhirnya ia jadi ragu akan mimpi tertundanya tersebut. Ia merasa apakah mimpi tersebut memang tidak pernah akan bisa ia raih atau apakah mimpi tersebut benar-benar setimpal untuk diperjuangkan?

Saya menyarankan kepadanya agar tidak ada salahnya terus mencoba menggapai mimpinya tersebut. Jika kemarin-kemarin mimpi itu tidak terlaksana bukan berarti mimpi tersebut tidak bisa diwujudkan di masa depan. Menurut saya mimpi itu hanyalah mimpi tertunda yang dalam waktu dan situasi yang tepat pasti akan tercapai juga asalkan kita terus berusaha.

Saya pun memiliki mimpi tertunda yang mau tidak mau terbentur akan kenyataan yang ada: waktu yang tersita oleh pekerjaan harian.

Sekarang ini saya kembali bekerja penuh sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan periklanan digital. Saya menerima tawaran pekerjaan ini selain karena materinya, juga karena saya dapat melampiaskan passion saya selain musik yakni di dunia digital dan social media. Tidak semua orang beruntung bisa bekerja sesuai minat dan kecintaannya. Karena itu saya bersyukur.

Walau begitu ketika saya menerima pekerjaan ini saya siap menerima resiko bahwa saya akan kehilangan banyak waktu pribadi saya. Yang dalam hal ini waktu untuk mewujudkan mimpi yang tertunda.

Jadi apa sih mimpi tertunda saya? Mungkin mimpi saya ini tidak sespesifik teman saya yang di awal tulisan ini saya ceritakan. Karena mimpi tertunda saya masih berbentuk abstrak dan masih bisa berwujud apapun pada nantinya. Yang pasti mimpi saya adalah ingin memiliki usaha sendiri dimana saya bisa mengawinkan dua dunia yang saya cintai, yakni musik dan digital.

Saya percaya apa yang saya lakukan saat ini dan yang sudah saya lalui merupakan proses dalam menggapai mimpi saya di depan sana. Yang tinggal saya lakukan hanyalah terus bekerja sebaik-baiknya, jalani semua prosesnya dan tetap fokus dengan mimpi tersebut.

Fokus terhadap mimpi kita itu merupakan poin penting. Karena banyak terjadi kebanyakan mimpi akhirnya membuat kita tidak fokus dengan apa yang ingin dicapai.

Salah satu cara untuk tetap fokus dalam menggapai mimpi kita dengan berlibur ke tempat-tempat yang kita inginkan secara rutin agar dapat berpikir lebih jernih dan mengatur rencana. 

Kebetulan Heineken sedang menjalankan kampanyenya bertajuk #TakeMeToDreamIsland yang mengajak kita untuk tetap fokus dan berusaha untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang terbengkalai. Caranya melalui liburan di sebuah pulau impian yang hingga saat ini masih dirahasiakan namanya. Menurut Heineken, melalui liburan ke pulau impian ini diharapkan kita bisa semakin terinspirasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi terbengkalai tersebut.

Silakan lihat video mengenai kampanye ini yang menurut saya ceritanya agak-agak mengharukan. Mungkin karena pengaruh musik latarnya juga. :D


Kalau mau ikutan, tinggal buat video di Vine atau Instagram dan ceritakan mimpi-mimpimu yang belum terwujud. Mention akun Twitter @HeinekenID dengan disertai tagar #TakeMeToDreamIsland. Mimpi yang paling seru nantinya akan menjadi pemenang yang akan merasakan liburan di pulau impian.

Kalo belum kebayang, bisa lihat video saya di bawah ini:


Biar tambah ramai, kita bisa menantang teman-teman kita untuk ikut berbagi mimpinya melalui video. Siapa tau kamu dan temanmu yang terpilih untuk liburan ke pulau impian.

Silahkan lihat keterangan lengkapnya di sini ya. bit.ly/HeiDream


Ayo berbagi mimpi tertundamu sekarang juga sebelum kampanye ini berakhir tanggal 24 Januari 2015 dan sebelum mimpimu kadaluarsa.
Rabu, 31 Desember 2014

Dimas Ario's Favorite Songs of 2014

Tahun 2014 adalah tahun dimana saya semakin aktif sebagai pengguna layanan music streaming. Mendengarkan musik kini menjadi ritual yang tidak memerlukan usaha yang berarti. Pilihannya tinggal play atau skip. Menemukan musisi tak dikenal yang setipe dengan musisi favorit kita juga semakin mudah melalui algoritma yang semakin canggih.

Namun karena kemudahan itu, semakin sulit bagi saya untuk menemukan lagu atau album yang benar-benar disukai yang bisa saya dengarkan berulang kali dalam jangka waktu tertentu. Karena banyaknya pilihan, semua musik jadi ingin saya dengar yang mengakibatkan tidak ada musik yang bisa menempel dalam waktu yang lama. Dan akibatnya, musik-musik yang saya sukai memiliki kadar kesukaan yang hampir setara antar satu dan lainnya. Karena itu dalam membuat list tahunan ini saya sulit untuk menentukan urutan. Jadi dalam list ini saya anggap semuanya merata.

Deretan lagu dalam playlist ini memuat berbagai lagu yang memiliki umur sedikit panjang di telinga saya. Yang bisa membuat saya melewatkan tombol skip di layanan music streaming atau membuat saya menekan tombol like pada halaman Soundcloud musisi bersangkutan. 

Untuk kategori rilisan lokal dalam list ini memiliki rentang genre yang amat variatif. Dari lagu pop yang biasa diputar di radio-radio, lagu kemarahan yang beringas, lagu folk dengan rasa kedaerahan yang kental hingga lagu elektronika bernuansa retro. 

Untuk kategori rilisan internasional, praktis tidak ada nama baru yang muncul. Rata-rata adalah band atau penyanyi yang sudah berkarir paling sedikit tiga tahun lamanya. Nama-nama baru yang ada dalam list ini datang dari negeri tetangga Malaysia yang semakin tahun kualitas musiknya semakin keren dengan kiprahnya yang semakin bergaung luas di industri musik dunia. 

Tadinya saya ingin menulis satu per satu setiap lagu yang ada, namun kenyataannya sangat sulit untuk menemukan waktu yang lowong. Daripada listnya keburu basi gara-gara menunggu saya menulis deskripsinya, lebih baik saya skip saja opsi menulis dan langsung merilis playlist ini tepat di hari terakhir 2014.

Selamat mendengarkan dan selamat tahun baru. 

Bersulang untuk musik 2015 yang semakin kaya dan bergizi.

Inilah empat belas lagu lokal terfavorit sepanjang tahun 2014 



Tracklist: (disusun tidak berdasarkan urutan terfavorit)

1. Semesta - Maliq & D'Essentials
2. This Providence - Polka Wars feat. Krautmilk
3. Inadequate - Vague
4. A Distant Beach - Future Collective
5. Oh Baby - Rinni Wulandari
6. Jangan Cintai Aku Apa Adanya - Tulus
7. Pelawak Sekarang Lestari Mendatang - The Marsh Kids
8. Alkisah - Theory of Discoustic
9. Panen Raya - Tetangga Pak Gesang
10. If These Walls Could Talk - Christabel Annora
11. Saturday Light - Mondo Gascaro
12. Love Me - Ikkubaru
13. Buaian - Danilla
14. Semesta - Matajiwa


Dan Inilah empat belas lagu internasional terfavorit sepanjang tahun 2014 


Tracklist: (disusun tidak berdasarkan urutan terfavorit)

1. Seasons (Waiting On You) - Future Island
2. Put Your Number In My Phone - Ariel Pink
3. Salad Days - Mac Demarco  
4. Back, Baby - Jessica Pratt   
5. Really Love - D'angelo and The Vanguard   
6. Can't Do Without You - Caribou
7. Do You - Spoon
8. Champions Of Red Wine - The New Pornographers
9. The Agency Group - Alvvays
10. Afraid of Nothing - Sharon Van Etten
11. Tongue-Tied - OJ Law
12. Love Never Felt So Good (Original Version) - Michael Jackson
13. Angin Kencang - Noh Salleh
14. Talking Backwards - Real Estate




Senin, 30 Juni 2014

Sheila on 7 Adalah Kita

"Liat mata gue, mas. Udah basah gini," kata seorang kawan yang bersama saya dan puluhan ribu orang lainnya menyaksikan penampilan Sheila On 7 pada Soundrenaline Medan tanggal 8 Juni 2014 lalu.




Kawan saya itu mengaku memiliki banyak kenangan pribadi dengan Sheila on 7 khususnya ketika ia pernah bermukim di Jogja. Namun di malam itu, tampaknya bukan hanya kawan saya yang memiliki kenangan terhadap Sheila on 7. Karena setiap orang yang menyaksikan Sheila on 7 di Soundrenaline Medan yang lalu paling tidak pernah memiliki kenangan terhadap satu atau dua lagu Sheila on 7 dalam hidup mereka.

Sheila on 7 lahir di era ketika band-band Indonesia seperti Dewa 19, Slank, Gigi, Kla Project tengah berjaya. Mereka hadir dengan musik yang tidak seglamor Kla Project, tidak seberandalan Slank dan tidak serumit Dewa 19 atau GIGI. Sheila on 7 bersinar dalam kebersahajaan dengan sendirinya.


Penampilan fisik setiap personil Sheila on 7 dari awal karir mereka hingga sepopuler seperti sekarang ini tetap sederhana dan jauh dari kesan bintang rock atau selebritis. Mungkin sekilas para personil Sheila on 7 tampak seperti anak kuliahan pada umumnya. Dan mendengar lagu-lagu Sheila on 7 seperti mendengar teman sepermainan kita bercerita dengan lirik-lirik lagu mereka yang bertutur apa adanya tanpa dikemas kata-kata puitis atau terasa norak sekalipun.



Kesederhanaan itulah yang membuat Sheila on 7 terasa tak berjarak dan lebih dekat dengan kita. Jika boleh meminjam salah satu tagline dari kandidat presiden nomer urut dua, Sheila on 7 adalah kita.

"Kita selalu manggung dengan gaya kita sendiri. Walau di Soundrenaline ini banyak band rock, bukan berarti penampilan kita juga ikutan ngerock," tukas vokalis Duta di press conference sesaat setelah mereka baru turun panggung di Soundrenaline Medan.



Malam itu, Sheila on 7 tampil di area Go Ahead Stage yang mana bukan merupakan panggung utama dari Soundrenaline. Di area Go Ahead Stage ini tampil band-band yang besar di komunitas arus pinggir seperti Shaggy Dog, The S.I.G.I.T,  Burgerkill, Seringai. Keberadaan Sheila on 7 pada panggung tersebut menyisakan tanda tanya bagi saya. Mengapa mereka tidak bermain di panggung utama dengan band-band seperti GIGI, Slank, dll? Untuk band yang pernah mendapat predikat sebagai band satu juta copy, rasanya sayang jika penampilan mereka tidak mendapat sorotan utama dalam Soundrenaline ini.

"Yah, kami sih ngikut aja, mas. Diminta main di panggung ini yah ayo," jawab Duta ketika saya bertanya langsung kepadanya seusai pentas mengenai alasan mengapa mereka bermain di area Go Ahead Stage.

Walau begitu, penampilan Sheila on 7 malam itu di Soundrenaline sukses membawa nostalgia yang manis. Beberapa kali Duta bergurau di atas panggung dengan memperkenalkan Sheila on 7 seakan-akan adalah band baru. Bahkan sesaat sebelum memainkan salah satu hits terbesar mereka "Dan", Duta memperkenalkan lagu tersebut sebagai salah satu lagu dari band yang pernah terkenal di akhir 90an yang mereka akan daur ulang.



Mereka menyadari bahwa masa kejayaan Sheila on 7 dalam industri musik Indonesia sekarang ini sudah berakhir namun dengan mendengar koor penonton yang tiada berhenti ketika mereka tampil malam itu menjadi bukti bahwa lagu-lagu mereka tetap 'berbicara' di banyak orang hingga kini.




semua foto diambil oleh saya dengan menggunakan kamera Fuji XA-1

Rabu, 11 Juni 2014

(Playlist) I Stand On The Rock Side

Masa kampanye presiden 2014 ini adalah kampanye pertama di Indonesia yang pergerakannya melalui medium social media begitu semarak. Pada kampanye 2009, orang-orang di Indonesia banyak yang baru bergabung di Twitter. Dulu Path belum ada. Yang baru banyak digunakan hanya Facebook yang penggunaannya lebih untuk bereuni dengan kerabat lama ataupun stalking gebetan atau mantan.

Dalam kampanye tahun ini, hampir di semua channel social media yang banyak digunakan di Indonesia pasti akan mudah ditemui content yang berbau politik, mulai dari berbagi link artikel mengenai kebaikan dan keburukan kedua kandidat hingga meme yang menampilkan kedua kandidat presiden dalam gaya jenaka. Mungkin ini yang dinamakan euforia politik.

Asas Rahasia yang dulu mendampingi asas Langsung, Bebas, Umum rasanya tidak perlu lagi digunakan. Karena semua orang dengan bangganya telah menunjukkan orientasi politik mereka dengan memasang avatar tanda dukungan atau menjadi buzzer baik berbayar maupun tidak bagi presiden pilihannya masing-masing.

Itu juga yang terjadi pada saya. Walaupun saya tidak bisa dikatakan juga sebagai pendukung garis keras untuk salah satu kandidat presiden. Sejauh ini saya tidak memasang avatar ataupun ikut aksi-aksi di dunia maya ataupun di jalan sebagai bentuk dukungan terhadap presiden pilihan. Namun saya beberapa kali menyinggung soal itu dalam tweet-tweet saya dalam sebulan terakhir.

Dan kali ini bentuk dukungan saya terhadap kandidat presiden yang akan saya pilih nanti datang dari hal yang paling saya kuasai dan tentunya saya senangi, yakni membuat playlist.

Kebetulan kandidat presiden pilihan saya ini sedikit banyak bersinggungan dengan dunia musik. Beliau dikenal sebagai pencinta musik rock dan metal. Beberapa media lokal sudah pernah membahas sisi rock beliau. Bahkan ada website Metal internasional juga pernah memuat artikel mengenai kecintaan beliau terhadap musik Rock dan Metal.

Kecintaan beliau terhadap musik rock dan Metal dibuktikan juga dengan kehadirannya dalam beberapa konser Rock, antara lain Metallica, Lamb of God dan sebuah festival Rock yang diselenggarakan di kota asalnya.

Dari situ, saya lalu terpikir untuk membuatkan playlist yang isinya adalah band-band Rock dan Metal favoritnya.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah membuat playlist di Spotify sewaktu kampanye presiden tahun 2012. Menurut saya ini merupakan salah satu langkah yang sangat cerdas yang dibuat oleh tim sukses Obama dalam menggapai target pemilih yang kebanyakan melek internet dan tentunya pengguna layanan musik streaming.

Kandidat presiden pilihan saya seharusnya bisa melakukan hal yang sama, mengingat citra dia sudah dikenal sebagai pecinta musik dan juga kebanyakan pemilihnya ada dalam golongan yang melek internet. Tapi karena hal tersebut belum dilakukan oleh tim suksesnya sejauh ini, jadi saya saja yang berandai-andai jika beliau diminta untuk membuat playlist, mungkin isinya akan seperti yang saya buat ini.

Membuat playlist dengan jenis musik Rock dan Metal adalah hal baru bagi saya yang telinganya sangat pop. Cukup sulit awalnya untuk menentukan lagu mana yang akan saya sertakan dalam playlist ini. Kalau untuk list bandnya, saya tinggal meriset dari beberapa artikel saja yang pernah memuat list band kesukaan beliau.

Akhirnya lagu-lagu dari band-band favoritnya ini saya pilih yang sedikit banyak menjadi gambaran dari keras dan kejamnya dunia politik serta juga merepresentasikan semangat untuk perubahan. Ada juga beberapa band yang tidak pernah disebutkan dalam list band favorit beliau tapi lagunya saya masukkan dalam playlist ini karena memiliki judul yang tepat dengan slogan kampanye beliau.

Dalam playlist ini juga menampilkan dua band negeri sendiri, yakni Slank dan Powerslaves. Kalau Slank sudah jelas karena band ini sudah terang-terangan mendukung beliau. Kalau Powerslaves ada dalam playlist karena beliau pernah menyempatkan hadir untuk menonton band ini dalam salah satu kesempatan.

Kira-kira seperti itu isi dari playlist ini. Silahkan mengunduh dan menyebarkannya. Mengunduh playlist ini memang menjadi hal nomer satu yang harus dilakukan setelah membaca post ini tapi yang nomer dua biarlah yang dicoblos pada bilik suara pada pemilu 9 Juli 2014 nanti. \m/

I Stand On The Rock Side

Jokowi's Presidential Campaign Playlist


Tracklist:

01. Slank - Ngindonesia
02. Poweslaves - Kereta Rock N Roll
03. Guns N' Roses - Get In The Ring
04. Anthrax - New Noise
05. Led Zeppelin - The Rover
06. Lamb of God - Ashes of the Wake
07. Napalm Death - When All Is Said And Done
08. Metallica - And Justice For All
09. Megadeth - Architecture of Aggression
10. Slayer - Supremist
11. Hammers of Misfortune - The Locust Years
12. Sepultura - Arise
13. Fear Factory - Controlled Demolition
14. Black Sabbath - Wicked World
15. Queen - Put Out the Fire
16. Judas Priest - United
17. Tool - Right in Two

UNDUH


Playlist ini juga dapat didengar streamingnya pada akun 8tracks saya.




Senin, 02 Juni 2014

Mengapa Lineup Soundrenaline Itu-Itu Saja?

"Gimana Soundrenaline kemarin, mas? Masih seru?" pertanyaan tadi kerap terlontar dari beberapa teman saya ketika mereka mengetahui saya datang ke Soundrenaline di Surabaya yang diselenggarakan pada tanggal 10 Mei 2014 lalu.

Saya selalu menjawab, "Soundrenaline seru. Namanya juga festival gede ya. Walau lineupnya gitu-gitu aja tiap tahun tapi penontonnya juga masih rame dan terlihat sangat antusias."


Jumat, 23 Mei 2014

Lima Lagu Favorit Yang Ditulis Oleh John Bettis

Pagi ini saya melihat tweet dari Wening yang menyebutkan lima besar lagu favoritnya dari boyband New Kids On The Block (NKOTB).

Boyband NKOTB adalah salah satu dari dua boyband favorit saya sepanjang masa selain Take That. Banyak sekali lagu dari NKOTB yang menjadi favorit hingga kini. Salah satu lagu favorit saya dari NKOTB ialah "If You Go Away" yang juga masuk dalam top 5 Wening. "If You Go Away" pertama dirilis sebagai single di tahun 1992 dan ada dalam album terakhir mereka sebelum bereuni, Face The Music.

NKOTB bukan boyband yang menciptakan lagu sendiri seperti Take That. Dari awal karir mereka, lagu-lagu NKOTB banyak ditulis oleh Maurice Starr yang juga menjadi produser dari album-album mereka. Baru pada album Face the Music, NKOTB tidak lagi bekerjasama dengan Maurice Starr. Mereka akhirnya bekerjasama dengan beberapa penulis lagu kawakan, salah satunya adalah John Bettis yang menulis "If You Go Away".

Setiap mendengar lagu yang saya suka, pasti saya akan langsung menelusuri siapa penciptanya. Saya pribadi biasanya lebih suka menyimak melodi dan bukan lirik. Namun pada beberapa lagu favorit saya sepanjang masa tertera nama John Bettis, sebagai lirikus. Dari situ saya mulai mengetahui namanya.



Rabu, 07 Mei 2014

Voice of Choice Soundrenaline Private Gathering

Dalam rangka menyambut Soundrenaline yang akan diselenggarakan hari Sabtu ini, 9 Mei 2014 di Surabaya, hari Senin kemarin saya bersama Sampoerna A dan Mavericks membuat sebuah private gathering untuk kawan-kawan blogger dan para penggiat di social media.

Dengan persiapan yang super minim, private gathering bertajuk Voice of Choice yang dilaksanakan di rooftop kantor Maverick ini puji Tuhan dapat berlangsung lancar dan meriah. Para undangan yang rata-rata saling mengenal satu sama lain ini membuat suasana bertambah hangat.

Minggu, 04 Mei 2014

Band Memainkan Satu Album Penuh

Dari dulu saya selalu menyukai konsep musisi atau band memainkan satu album terbaik atau album klasiknya secara penuh. Karena kerap terjadi tidak semua lagu yang ada sebuah album itu bisa dibawakan secara live. Atau bisa saja karena perubahan arah musikal, lagu-lagu yang dulu ada di sebuah album kini tidak akan pernah dimainkan kembali.

Konsep memainkan satu album penuh - yang biasanya dimainkan sesuai urutan album- sudah banyak dilakukan di luar sana. Setau saya yang pertama mempopulerkan ini adalah festival musik All Tomorrow's Party dengan seri mereka yang bertajuk Don't Look Back. Dari tahun 2005 hingga 2012, seri Don't Look Back ini telah menampilkan berbagai band yang memainkan kembali salah satu album terbaik atau klasik mereka.

Kamis, 01 Mei 2014

Lampau: Sungsang Lebam Telak (2008)

Tidak pernah saya sangka sebelumnya, bahwa trio freejazz/absurd/jenaka/konseptual/apapun labelnya yang bernama Sungsang Lebam Telak yang pernah saya wawancarai di tahun 2008, empat tahun kemudian bisa memenangkan penghargaan musik bergengsi ICEMA, Indonesian Cutting Edge Music Awards. Sebuah prestasi yang membanggakan.

Saya juga pernah mengundang mereka untuk bermain live di acara release party majalah Jeune di tahun 2008, bermain bersama Santamonica dan Monday Math Class. Ketika Santamonica saat itu datang dengan peralatan musik yang sangat banyak dan mahal, Sungsang Lebam Telak malah hanya membawa sepasang stick drum. Peralatan sisanya? Pinjam ke sana kemari. Termasuk meminjam bass saya waktu itu. :D

Sabtu, 19 April 2014

Mewujudkan Mimpi Melalui Heineken Road to Ibiza Final

Saya bukan penggemar berat sepak bola. Apalagi memainkannya di lapangan. Entah kenapa saya selalu merasa kaki saya kurang terampil dan lincah dalam menggiring atau menggocek bola. Jadi setiap bermain futsal dengan teman-teman saya lebih berlari ke sana kemari saja, tapi tanpa ada bola di kaki saya. Haha. Yah paling tidak keluar keringat.

Untuk menonton bola saya tidak melakukannya secara rutin seperti kebanyakan teman-teman pria saya. Saya tidak memiliki tim favorit. Biasanya saya nonton bola di pertandingan penting saja, seperti final, baik itu piala dunia maupun pertandingan liga. Karena perilaku saya ini, saya pasrah jika ada yang menganggap saya sebagai poser bola. :D

Salah satu pertandingan penting yang rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja adalah final liga Champion UEFA yang akan diselenggarakan bulan depan, tepatnya 24 Mei 2014. Walaupun saya awam bola, tapi saya tahu bahwa liga Champion ini diikuti antar klub-klub sepak bola Eropa tersukses dan dianggap sebagai kejuaraan paling prestisius di wilayah Eropa.

Kebetulan beberapa minggu lalu, brand premium bir terfavorit, Heineken mengundang saya dan teman-teman blogger lainnya untuk datang ke kick-off party Road to Ibiza Final dimana mereka akan mengajak lima orang yang beruntung dari Indonesia untuk nonton bareng final liga Champion UEFA ini di Ibiza, Spanyol, bersama 500 konsumen Heineken dari 50 negara di dunia. 

LinkWithin

.